Selasa, 10 Juli 2012

Penyebab Gagal Lulus ITB Biasanya Faktor Akademik

Penyebab Gagal Lulus ITB Biasanya Faktor Akademik



Setiap Angkatan, 90% yang Meraih Sarjana

BANDUNG, (PR).-Kegagalan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam menyelesaikan studinya mayoritas disebabkan oleh faktor kemampuan akademik, bukan faktor kemampuan ekonomi. Setiap angkatan biasanya 90 persen yang mampu meraih gelar sarjana sesuai waktu.
"Tingkat drop out (DO) di ITB sejauh ini rata-rata 2 persen tiap angkatan per tahun dari total jumlah mahasiswa sekitar 3.000 orang setiap masuknya," kata Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB, Dr. Adang Surachman, Rabu (23/1) di Ruang Rapim A ITB, Jalan Tamansari Bandung.
Adang membantah jika kebanyakan kasus DO dipengaruhi oleh faktor ekonomi atau ketidakmampuan mahasiswa membayar biaya studi.
"Kita menyediakan beasiswa. Jadi, jika ada yang bermasalah dengan biaya studi, silakan jujur kepada pihak universitas supaya bisa dibantu dengan program beasiswa," tuturnya.
Menurut dia, mahasiswa yang DO karena masalah ekonomi hanya sekitar 30 persen dari jumlah mahasiswa ITB yang DO setiap angkatan per tahunnya. "Sisanya karena faktor akademik, misalnya mereka memang tidak sanggup mengikuti pembelajaran," kata Adang.
Diakui, tingkat keketatan persaingan dan kesulitan di sejumlah fakultas relatif tinggi, misalnya pada Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Sekolah Farmasi (SF), serta Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM).
Untuk itulah, ITB melakukan seleksi yang ketat untuk menjaring mahasiswanya. "Penyelenggaraan ujian saringan masuk (USM) ITB merupakan langkah yang harus ditempuh untuk memenuhi passing grade ITB itu," kata Adang.
Dikatakan, SPMB merupakan ujian untuk mengukur kemampuan akademik masa lalu karena bahan ujiannya berasal dari apa yang pernah diajarkan ketika SMA/SMK. Sementara itu, ITB mencari mahasiswa yang mampu mengikuti pembelajaran dengan standar tertentu di ITB.
Selain itu, ITB pun memberlakukan ketentuan yang berbeda bagi calon mahasiswanya, yakni memilih fakultas, bukan prodi seperti universitas pada umumnya. "Tahun pertama mereka mengikuti tahap pertama bersama (TPB) supaya mahasiswa belajar dulu dasar-dasar ilmu yang akan dipelajarinya untuk menentukan prodi yang akan diambil di tahun kedua," ungkap Adang.
Menurut Adang, kecenderungan DO ditunjukkan oleh mahasiswa yang berasal dari jalur SPMB. "Mahasiswa dari jalur USM ITB sekali waktu mengalami penurunan kemampuan akademik, tetapi mereka mampu memperbaiki diri, sedangkan dari jalur SPMB hanya begitu-begitu," kata Adang.
Oleh karena itu, Adang menyimpulkan tingkat DO di ITB relatif menurun sejak adanya USM ITB. Selain itu, tingkat DO juga banyak terjadi pada mahasiswa S-2 dan S-3.
Tidak berlebihan
Sementara itu, Kasubdit Penjaringan Mahasiswa sekaligus Ketua Lembaga Tahap Pertama Bersama, Mindriany Syafila mengatakan, ketentuan DO dari ITB sudah jelas dan dinilai tidak berlebihan.
Mahasiswa ITB dinyatakan DO, kata Mindriany, jika selama setahun IP berada di bawah 1, selama dua tahun berturut-turut mahasiswa tersebut belum lulus tahap pertama bersama (TPB), atau ada nilai E untuk mata kuliah tertentu.
Namun, Mindriany menambahkan perlu juga dipertimbangkan bahwa jumlah mahasiswa ITB yang tidak bisa menyelesaikan studinya ini juga karena mereka mengundurkan diri. (A-155)***
Pikiran - Rakyat - 23 Januari 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar